Sabtu, September 5, 2026
  • Login
- Pendidikan Masa Depan
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ragam
  • Ecommerce
No Result
View All Result
- Pendidikan Masa Depan
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ragam
  • Ecommerce
- Pendidikan Masa Depan
No Result
View All Result

Body Shaming Vs Body Positivity : Antara Penerimaan Diri dan Kesadaran Kesehatan

Wirda Hayani by Wirda Hayani
1 September 2026
in Serba-serbi
0
0
SHARES
94
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Di era digital, penampilan fisik sering dijadikan tolok ukur nilai diri seseorang. Fenomena ini melahirkan dua arus besar: body shaming yang merendahkan, dan body positivity yang menekankan penerimaan diri. Keduanya sama-sama kuat memengaruhi cara remaja dan masyarakat modern memandang tubuh. Namun, di tengah dorongan untuk mencintai diri apa adanya, muncul pertanyaan penting: apakah penerimaan diri boleh mengabaikan kesehatan?

Body Shaming: Tekanan Sosial yang Menyakiti

Body shaming adalah tindakan mengkritik atau mempermalukan seseorang karena bentuk tubuhnya. Komentar seperti “kok gemukan?” atau “kurusan dong biar cantik” sering terdengar ringan, namun dampaknya serius. Banyak korban mengalami rendah diri, gangguan makan, hingga depresi. Menurut data Kominfo body shaming termasuk jenis cyberbullying terbanyak di media sosial Indonesia. Di tengah standar kecantikan yang sempit dan seragam, banyak orang merasa tidak cukup baik hanya karena bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan tren. Ini menciptakan tekanan sosial yang berbahaya, terutama bagi remaja yang sedang membangun kepercayaan diri.

Body Positivity: Mencintai Diri Apa Adanya

Sebagai reaksi terhadap budaya ejekan fisik, muncul gerakan body positivity. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk menghargai tubuh tanpa memandang ukuran, warna kulit, atau bentuk. Pesannya jelas: setiap tubuh layak dihormati. Di media sosial, banyak influencer mengampanyekan foto tanpa filter atau editan berlebihan, menolak standar kecantikan palsu yang diciptakan industri. Dampaknya cukup besar banyak orang mulai berdamai dengan diri sendiri, berhenti membandingkan tubuh, dan fokus pada rasa percaya diri.

Penerimaan Diri Bukan Berarti Mengabaikan Kesehatan

Meski positif, gerakan ini juga menimbulkan dilema baru. Beberapa pihak khawatir semangat “terima tubuhmu apa adanya” dapat disalahartikan sebagai alasan untuk tidak menjaga kesehatan. Padahal, cinta diri seharusnya juga berarti merawat tubuh, bukan sekadar menerimanya.

WHO mencatat peningkatan kasus obesitas pada remaja di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara penerimaan diri dan pola hidup sehat. Mencintai tubuh bukan berarti membiarkan gaya hidup buruk, melainkan memahami apa yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat dan kuat.

Mencari Titik Seimbang: Cinta Diri dan Perawatan Diri

Pendekatan yang ideal adalah self-love yang sadar kesehatan — mencintai tubuh tanpa tekanan sosial, namun tetap bertanggung jawab menjaganya. Makan bergizi, tidur cukup, dan rutin bergerak adalah bentuk kasih sayang paling nyata kepada diri sendiri.

Lingkungan sosial juga berperan penting, alih-alih saling mengomentari bentuk tubuh, masyarakat perlu menumbuhkan budaya saling menghargai dan mendukung gaya hidup sehat. Dorongan yang penuh empati jauh lebih bermanfaat daripada kritik yang merendahkan.

WH.

Tags: body positivitybody shamingkesadaran kesehatankesehatan masyarakat

Pos-pos Terbaru

  • Buah Langka Keraton Yogyakarta
  • Tiga Jantung dalam Satu Tubuh : Keajaiban Biologis Unik Si Gurita
  • Kenapa Gigi Tetap Berlubang padahal Rajin Sikat Gigi Pagi dan Malam?
  • Saat Teknologi Bertemu Kreativitas
  • ASUS ExpertBook Ultra Hadir sebagai Laptop Flagship untuk Produktivitas Berbasis AI

Komentar Terbaru

  1. Alasan Dibalik Kewajiban Indonesia dalam Memberikan Perlindungan pada Pengungsi - Pendidikan Masa Depan mengenai Prinsip Hukum Humaniter yang Harus Diperhatikan dalam Melakukan Perang
  2. Hamba allah mengenai Deportasi Pengungsi dan Pencari Suaka dari Indonesia, Apakah Bertentangan dengan Prinsip Universal Hak Asasi Manusia dan Hukum Internasional?
  3. Media Sosial: Silaturahmi dan Lebaran - Pendidikan Masa Depan mengenai Teknologi Semakin Maju,Kita Generasi Muda Harus Apa ?
  4. Let's Recognise The Type Of Plastic Packaging You Use! mengenai Highly Sensitive Person
  5. Apakah flexing dan hedonisme sama? Mari simak penjelasannya - mengenai Metaverse Masa Depan Ekonomi Digital

Copyright © 2022 segudangilmu.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ragam
  • Ecommerce

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.